Utang Luar Negeri RI US$ 387,6 Miliar

Utang luar negeri Indonesia pada kuartal I 2019 tercatat sebesar US$ 387,6 miliar, atau tumbub 7,9% (year-on-year) dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan utang ini banyak disumbang sektor swasta, sementara utang pemerintah relatif stabil.

Hingga kuartal I 2019, utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$190,5 miliar, sementara itu utang swasta (termasuk BUMN) sebesar US$197,1 miliar. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I dianggap relatif stabil sebesar 36,9%.

Selain itu, struktur utang luar negeri Indonesia tetap didominasi oleh utang berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1% dari total utang luar negeri. Meskipun meningkat, namun utang luar negeri dinilai masih terkendali dengan struktur yang sehat.

Namun demikian, pemerintah berusaha mengelola APBN dengan hati-hati (prudent). Salah satunya dengan keputusan pembiayaan utang sebesar Rp144,98 triliun. Namun, jumlah outstanding utang pemerintah hingga akhir April 2019 mengalami penurunan Rp38,86 triliun dibandingkan akhir Maret 2019, sehingga berada pada rasio 29,65% terhadap PDB.

Pemerintah akan mewaspadai dinamika dari perkembangan ekonomi ini baik yang berasal dari faktor global dan juga dari faktor domestik dan tentu setiap policy untuk mengaddress satu isu ekonomi atau pembangunan pasti ada imbasnya terhadap APBN kita baik dari sisi penerimaan atau ke belanja.

Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan RI

Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah yang relatif stabil dipengaruhi oleh kenaikan arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penurunan outstanding SBN dalam valuta asing sejalan dengan pelunasan global bonds yang jatuh tempo pada Maret 2019. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing yang tinggi terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Sri Mulyani menyatakan terjaganya stabilitas perekonomian dalam negeri ditandai dengan rendahnya inflasi. Selain itu, pemerintah mampu menjaga momentum perbaikan kinerja perekonomian di atas 5%, yaitu 5,07% lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal 1 pada 3 tahun terakhir.

Defisit Neraca Dagang

Namun, pemerintah, menurut Sri Mulyani, tetap mewaspadai dampak tekanan ekonomi global, terutama perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Kondisi ini berdampak pada kinerja ekspor-impor Indonesia yang kurang baik belakangan ini.

Sepanjang Januari-April 2019, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar US$2,56 miliar, atau lebih besar dibanding defisit US$1,41 miliar pada periode yang sama pada 2018.

Kinerja ekspor maupun impor kita tidak menggembirakan belakangan ini akibat dampak perekonomian luar negeri global yang melambat.

Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *