OECD Mendorong Green Growth di Indonesia

OECD menilai Indonesia memiliki potensi pertumbuhan berwawasan lingkungan (green growth) yang besar. Saat ini, Indonesia tengah berupaya untuk lebih menyatukan aspek lingkungan ke dalam rencana pembangunan ekonomi.

Namun di sisi lain, kegiatan berbasis lahan seperti pertambangan, agrikultur, perhutanan dan perikanan juga menimbulkan masalah seperti penebangan hutan, pencemaran, dan konflik atas hak lahan.

Pertumbuhan sosial dan ekonomi Indonesia sejak krisis keuangan Asia sangat mengesankan. Kini, tantangan bagi Indonesia adalah melanjutkan dan terus mengupayakan pertumbuhan inklusif sambil mengatasi dampak lingkungan.

Jika tidak dikendalikan, dampak lingkungan bisa mengancam pembangunan dan kesejahteraan penduduknya. OECD menyatakan siap bekerja bersama dengan Indonesia dalam melaksanakan upaya penting ini.

Angel Gurria
Sekretaris Jenderal OECD

Kekayaan sumber daya alam menjadikan Indonesia salah satu penghasil dan eksportir terbesar bahan mineral, sumber energi, kayu, dan produk agrikultur. Secara total, kegiatan berbasis sumber daya alam menyumbang sekitar 20% pada barang bernilai tambah dan 50% pada ekspor.

Konsumsi energi di Indonesia 29% lebih tinggi dibandingkan tahun 2005. Hal ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, kenaikan standar hidup, dan akses energi yang lebih baik.

Namun, OECD menyoroti bauran energi yang mengandalkan bahan bakar fosil, terutama dominasi penggunaan batubara untuk pembangkit tenaga listrik. Penggunaan batubara direncanakan naik signifikan untuk dapat memenuhi kebutuhan energi. Rencana ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian target-target perubahan iklim.

Indonesia adalah satu dari sepuluh penghasil gas rumah kaca (GRK) terbesar dunia. Sejak 2000, emisi GRK naik sebesar 42%. Emisi terutama bersumber dari konversi hutan dan lahan gambut menjadi lahan agrikultur dan produksi energi untuk listrik dan industri.

Menurut data OECD, 95% populasi Indonesia terpapar pencemaran udara pada tingkat yang membahayakan. Sektor transportasi, pembangkitan listrik tenaga batubara, dan pembakaran sampah adalah sumber utama pencemaran, yang memuncak jika terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut.

Investasi Energi Terbarukan

Sementara itu, besaran investasi energi bersih masih jauh dari yang dibutuhkan Indonesia untuk memenuhi target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23%. Jumlah investasi juga masih kecil dibandingkan investasi untuk minyak bumi, batu bara, dan gas alam.

Biaya pengembangan EBT di Indonesia tinggi. Investasi dikaitkan dengan risiko yang signifi kan akibat perubahan kebijakan yang sering terjadi, tidak ada strategi jelas untuk EBT, penetapan harga karbon yang belum memadai, risiko pemanfaatan produk rendah, dan persyaratan tingkat kandungan komponen dalam negeri.

OECD energi terbarukan Indonesia
PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan

Beberapa inisiatif positif untuk mempromosikan praktik usaha yang baik sedang berjalan, termasuk pembuatan Standar Industri Hijau, Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH), dan Komite Otorisasi LSIH. PROPER adalah perangkat utama yang mendorong praktik usaha lebih baik dengan memberikan peringkat terhadap kinerja perusahaan di bidang lingkungan.

target OECD EBT

OECD mendorong Indonesia untuk lebih tegas dalam penegakan hukum terkait pemanfaatan lahan secara ilegal. OECD juga mendorong penggunaan instrumen pasar untuk konservasi keragaman hayati, termasuk melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup yang baru.

Baca juga: https://rilismedia.com/pemerintah-terus-dorong-energi-terbarukan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *