Industri Logam Semakin Menggeliat

Pemerintah terus mendorong pembangunan industri berbasis logam di wilayah timur Indonesia, khususnya di Sulawesi. Industri logam, terutama stainless steel, diharapkan berkontribusi banyak terhadap ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan industri smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe, Sulawesi Tenggara pada Senin (25/2). Smelter nikel ini menambah jumlah fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. 
(sumber: kemenperin)

Selain di Sulawesi Tenggara, industri logam berbasis nikel juga tengah dibangun di Morowali, Sulawesi Tengah. Menperin optimistis beroperasinya dua smelter tersebut akan menjadikan Sulawesi sebagai pusat industri stainless steel kelas dunia dengan total kapasitas lebih dari 6 juta ton.

“Sebagai komponen utama, industri logam berpotensi berkontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi nasional melalui peningkatan added value. Sehingga akan terjadi multiplier effect dengan tumbuhnya industri lain.”

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Rencananya di Konawe akan memproduksi stainless steel dengan kapasitas sebanyak 3 juta ton per tahun. Sedangkan di Morowali menghasilkan 3,5 juta ton stainless steel per tahun. Apabila Indonesia mampu menembus kapasitas 6 juta ton per tahun, artinya dapat menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia.

Di samping itu, produk logam sangat dibutuhkan oleh banyak sektor, di antaranya konstruksi, properti, jalan dan jembatan, pembangkit listrik dan lain-lain.

Kinerja industri logam terlihat gemilang. Ini ditandai dari catatan pertumbuhan sektor industri logam pada 2018 yang menyentuh angka 7,6% atau naik dibandingkan pada 2017 dan 2016 yang masing-masing sebesar 6,33% dan 2,35%.

Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia industri bergairah melakukan investasinya di Indonesia. Untuk menarik investasi baru di sektor manufaktur, termasuk industri logam, pemerintah memberikan berbagai fasilitas, di antaranya tax holidaytax allowance serta pembebasan bea masuk terhadap barang modal. 

Investasi US$1 Miliar

PT Virtue Dragon Nickel Industry merealisasikan investasi sebesar US$1 miliar untuk membangun fasilitas pengolahan nikel di Konawe ini. Di pabrik ini akan dibangun 15 tungku Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan total kapasitas produksi 800 ribu metrik ton per tahun. Produk yang dihasilkan adalah Nickel Pig Iron (NPI) yang memiliki kadar nikel 10%-12%.

“Proyek ini menyerap tenaga kerja sebanyak 6.000 orang yang sebagian besar merupakan warga asli Sulawesi Tenggara. Tenaga kerja tidak langsung juga terserap sebanyak 10.000 orang yang merupakan bagian dari multiplier effect,” kata Airlangga.

Smelter ini berdiri di atas area seluas 700 hektare dan menjadi salah satu fasilitas pemurnian bijih nikel terbesar di Indonesia. PT VDNI adalah anak perusahaan Jiangsu Delong Nickel Industry Co., Ltd, produsen feronikel terkemuka.

“Fasilitas ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap pembangunan dan kemajuan Sulawesi Tenggara pada khususnya serta umumnya bagi kemajuan Indonesia.”

Presiden Direktur PT VDNI Zhu Min Dong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *