IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Global

Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan global pada 2019 dan 2020. Revisi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global, termasuk perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok dan eskalasi ketegangan geopolitik.

IMF Turunkan Proyeksi Ekonomi Global

Pada April lalu, IMF memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,3% pada 2019 kemudian naik menjadi 3,6% pada 2020. Pada Juli, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,2% pada 2019 dan 3,5% pada 2020.

“Kami merevisi turun proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,2% pada 2019 dan 3,5% pada 2020.”

Gita Gopinath
Kepala Departemen Riset dan Kepala Ekonom IMF

Selain perang dagang AS-Tiongkok, Gopinath juga menilai peluang tidak ada kesepakatan terkait Brexit. Terlebih lagi Inggris baru melantik Perdana Menteri Boris Johnson, seorang politisi Partai Konservatif dan pendukung Brexit.

Pertumbuhan perdagangan dan investasi global melambat menjadi 0,5% pada kuartal I 2019 atau paling lambat sejak 2012. Negara-negara maju, seperti AS, Jepang dan Inggris, tumbuh lebih cepat dibanding proyeksi sebelumnya pada kuartal I 2019.

“Karena itu, khusus untuk AS, kami menaikkan proyeksi negara-negara maju sebesar 0,1 percentage point untuk 2019 sehingga menjadi 1,9%,” kata Gopinath.

Di negara-negara berkembang, proyeksi pertumbuhan direvisi turun sebesar 0,3 percentage point pada 2019 menjadi 4,1% dan sebesar 0,1 percentage point pada 2020 menjadi 4,7%. Revisi turun ini nyaris berlaku untuk seluruh negara dengan sebab yang bervariasi.

Untuk China, revisi turun dipengaruhi tarif impor yang dipatok tinggi oleh AS pada Mei. Sementara itu, revisi turun untuk India dan Brazil mencerminkan permintaan dalam negeri yang melemah.

IMF Turunkan Proyeksi Ekonomi Global

Untuk mengatasi situasi ini, IMF mendorong penguatan dan modernisasi sistem perdagangan multilateral, terutama yang terkait dengan layanan digital serta transfer teknologi.

“Negara-negara dengan ruang fiskal yang cukup dapat melakukan investasi pada infrastruktur fisik dan sosial untuk menaikkan potensi pertumbuhan jangka panjang,” kata Gopinath.

Pangkas BI7DRR

Sementara itu di Indonesia, Bank Indonesia (BI) menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Kebijakan ini sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan.

Sejumlah bank sentral di negara maju dan negara berkembang merespons dinamika ekonomi yang kurang menguntungkan ini dengan menempuh kebijakan moneter yang lebih longgar.

Secara keseluruhan, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di kisaran 5,0% – 5,4%. Ke depan, BI memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan.

Baca juga: https://rilismedia.com/bi-7-day-reverse-repo-rate-tetap-6/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *